Rekaman Selama 2 Jam, KNKT Berhasil Unduh Percakapan Terakhir Pilot Sriwijaya Air SJ182

Kotak penyimpanan memori dari perekam suara kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang dibawa oleh KRI Kurau setibanya di posko pencarian di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021). [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso]
Kotak penyimpanan memori dari perekam suara kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang dibawa oleh KRI Kurau setibanya di posko pencarian di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021). [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso]

Terkini.id, Pangkep – Komite Nasional Keselamatan Transportasi berhasil mengunduh data cockpit voice recorder Pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Laboratorium KNKT. 

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, hasil unduhan itu terdapat rekaman percakapan selama 2 jam termasuk percakapan penerbangan yang mengalami kecelakaan. 

KNKT berhasil mengunduh seluruh 4 channel dari CVR, akan tetapi channel 4 pada CVR mengalami gangguan.

“Meskipun demikian, berdasarkan rekaman yang ada tersebut, telah menambah data penting bagi investigasi yang hasilnya nanti akan disampaikan dalam laporan akhir,” ujar Soerjanto dalam keterangannya, Selasa, 13 April 2021, dilansir dari suara.com jaringan terkini.id.

Tiga hari setelah terjadinya kecelakaan yaitu pada tanggal 12 Januari 2021, Flight Data Recorder telah ditemukan.

Hasil data FDR yang diolah KNKT, telah diumumkan kepada publik melalui laporan awal investigasi (preliminary report) pada tanggal 10 Februari 2021. 

Sampai berakhirnya proses pencarian para korban SJ-182 yang dipimpin Basarnas pada tanggal 22 Januari 2021, CVR belum ditemukan. Untuk itu, KNKT melanjutkan proses pencarian CVR di sekitar area ditemukannya FDR. 

Tanggal 26 Januari sampai 14 Februari 2021, KNKT bersama tim penyelam dari Pulau Pari Kepulauan Seribu melanjutkan pencarian CVR, dengan pembuatan perimeter 50 x 50 meter di bawah air.

Proses pencarian CVR juga melibatkan metode penyemprotan lumpur di sekitar penemuan FDR oleh para penyelam.

Nmun, proses ini tidak mendapatkan hasil. Kendala utama dalam proses pencarian CVR ini adalah cuaca dan jarak pandang yang terbatas di bawah air. 

Tanggal 15 sampai 21 Februari 2021, tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air TNI AL (Dislambair TNI AL) bergabung dalam tim penyelam. 

Proses pencarian masih menggunakan metode visual. Pencarian ini juga tidak mendapatkan hasil karena kendala cuaca dan jarak pandang di bawah air. 

Tanggal 22 Februari sampai 12 Maret 2021, tim KNKT berkoordinasi dengan PT Sriwijaya Air untuk penggunaan metode penyedotan jumpur atau trailing suction hopper dredger (TSHD) oleh kapal King Arthur 8 yang saat itu masih berada di Teluk Lamong (Pacitan) Jawa Timur. 

Sebelum pelaksanaan penyedotan lumpur, tim penyelam menyelam untuk pembersihan area dengan mengangkat puing puing pesawat.

Tanggat 25 Maret 2021, kapal TSHD King Arthur 8 sampai di peranan pulau Lancang Kepulauan Seribu.

Mulai  25 Maret 2021, pencarian CVR dilakukan dengan cara penyedotan lumpur oleh kapal TSHO King Arthur 8.

Area pencarian diperbesar, yaitu 90 x 90 meter. Tanggal 30 Maret 2021 jam 20.05 WIB, CVR tersedot dan ditemukan di penampungan serpihan kapal TSHD King Arthur.

“Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim KNKT disertai proses penelitian yang mendetail.”

Untuk diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ182  jatuh di perairan Pulau Seribu, 9 Januari 2021. Pesawat itu terbang dalam rute Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak.

Pesawat tersebut diawaki oleh 2 pilot, 4 awak kabin, dan 56 penumpang. 

 

Baca Juga

Pemerintah: Idulfitri 2021 Jatuh pada Kamis 13 Mei

Kemensos Lanjutkan Bantuan Pangan Non Tunai

MA Batalkan SKB 3 Menteri Soal Seragam Sekolah

Syarat Melakukan Perjalanan hingga Sanksi, Larangan Mudik Lebaran 2021

Begini Cara Cetak Online dan Ubah Data Kartu Keluarga

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar