Dosen Unhas Sudah Ingatkan Ancaman Bencana di Luwu Utara

Terkini.id, Pangkep – Alih fungsi lahan di pegunugan Kabupaten Luwu Utara ditengarah menjadi penyebab utama banjir bandang. Hutan yang dulunya mampu menampung air hujan berubah menjadi lahan perkebunan dan permukiman.

Analisis Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil dalam catatannya berjudul ‘Duka Untuk Masamba’ beredar di media sosial.

Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin mengungkapkan, terdapat setidaknya tiga sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah Masamba dari utara ke selatan. 

Baca Juga: Pemkab Pangkep dan Kampus Unhas Teken MoU Tridarma Perguruan Tinggi

Sungai-sungai ini terbentuk oleh akibat patahan-patahan atau sesar sekitar Pliosen atau 2 juta tahun yang lalu.

Patahan-patahan tersebut terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi, dan seiring waktu patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai.

Baca Juga: Mahasiswa Kedokteran Menilai Program Pangkep Sehat Cabup MYL-SS Tepat untuk...

“Di daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi. Hal itu dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 km. Hasil penelitian yang dilakukan oleh UNHAS menemukan ketebalan soil bisa mencapai 8 meter dititik tertentu,” jelas dia lagi

“Banyaknya aktifitas pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan dan permukiman yang tidak terkontrol di wilayah pegunungan atau hulu sungai menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan, dan akibatnya terjadi proses sedimentasi pada sungai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu,” lanjutnya.

Pembukaan lahan juga disebut menyebabkan tanah menjadi rentan erosi pada permukaan sehingga vegetasi ikut berkurang. Kondisi tersebut membuat tanah di bagian hulu tak mampu lagi menyerap air hujan dengan baik.

Baca Juga: Semen Tonasa dan Fakultas Ekonomi Unhas Makassar Gelar Kerjasama

Ali fungsi lahan hutan juga menyebabkan proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar yang mengisi saluran sungai dan terendapkan pada dasar sungai. Hal ini membuat kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang karena terjadi pendangkalan.

“Kondisi ini menyebabkan ketika terjadi hujan deras dalam waktu yang singkat, maka banjir akan terjadi. Banjir terjadi dengan cepat, atau yang sering disebut dengan banjir bandang. Banjir ini terjadi akibat ketidakmampuan sungai untuk mengakomodasi volume air yang mengalir dan menyebabkan air akan meluap,” imbuhnya.

Gunung 90 Persen Pasir

Sementara itu, Dosen Geologi Universitas Hasanuddin, Ngakan Putu Oka lewat media sosial mengaku selalu mengingatkan ketika ada upaya untuk membuka lahan baru di hulu sungai di Luwu Utara.

“Dulu waktu saya bekerja dengan CIFOR penelitian di Luwu Utara antara 1999 sampai 2008, setiap ada keinginan pemerintah kabupaten untuk membuka hutan di wilayah hulu DAS yang bermuara ke Masamba, Mapadeceng dan Sukamaju selalu saya sarankan untuk tidak melakukannya,” tulisnya lewat media sosial.

Dia pun selalu mengingat kata kata yang dia sampaikan.

“Jangan sampai memaksakan peningkatan PAD ke di sektor kehutanan dan perkebunan hanya sebesar 1 miliar, akhirnya kita menuai bencana yang nilai (kerugiannya) jauh lebih besar.

Saya sering memasuki kawasan hutan di daerah itu, topografinya curam dan tanahnya berpasir. Malah ada gunung yang tekstur tanahnya hampir 90 persen pasir,” tambahnya lagi

Bantahan Indah Putri Indriani

Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani menepis tudingan yang menyebut banjir masamba akibat banyaknya pembukaan lahan baru di hulu.

Menurut dia, banjir masamba lebih disebabkan faktor alam.

“Berdasarkan laporan dari KPH (Kesatuan Pengelola Hutan) Sungai Rongkong dan Dinas Lingkungan Hidup itu memang ditemukan ada dua gunung yang ditemukan longsor,” terang Indah dalam keterangan tertulisnya.

Gunung yang dimaksud tersebut kawasan perbukitan di wilayah Lero dan Gunung Magandang. Longsor di wilayah tersebut menjadi sebab banjir di wilayah Kota Masamba dan kecamatan lainnya khususnya Desa Radda.

“Gunung Lero kemudian materialnya itu turun ke Sungai Radda, kemudian Gunung Magandang itu yang materialnya ke Sungai Masamba,” terang Bupati Indah.

Meski ada terjadi longsor di wilayah hulu, Indah memastikan tidak ada izin dari Pemkab Lutra untuk pembukaan lahan di wilayah tersebut.

“Jadi di atas tidak ada sama sekali pembukaan lahan sebagaimana informasi yang beredar selama ini, bahwa ada bangunan, ada izin tambang. Kami bisa pastikan bahwa tidak ada izin perkebunan dan tambang di wilayah hulu sungai ini (Sungai Masamba dan Sungai Radda),” imbuhnya.

 

Berita ini telah tayang : https://terkini.id/news/gunung-90-persen-pasir-dosen-unhas-sudah-ingatkan-ancaman-bencana-di-lutra/

 

Bagikan